Siber Raya Pos:

 

Dari Seni Pertunjukan ke Film: Cara Kemenekraf Bawa IP Lokal Tembus Pasar Global

Kamis, 10 September 2026 - 10:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Siberrayapos | JAKARTA — Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) memperkuat sinergi antara subsektor seni pertunjukan dan film. Kolaborasi tersebut dinilai dapat menjadi salah satu jalan untuk mengembangkan kekayaan intelektual (IP) lokal sekaligus menciptakan nilai tambah dan lapangan kerja dalam ekosistem ekonomi kreatif.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Irene Umar, menerima audiensi rumah produksi Keana Pictures di Kantor Kementerian Ekraf, Jakarta, Rabu (9/9/2026). Pertemuan itu membahas sejumlah rencana pengembangan karya berbasis kebudayaan untuk periode 2026–2027.

Keana Film sebelumnya menggarap sejumlah karya, antara lain teaterikal Laksamana Malahayati, monoplay Melati Pertiwi dan Meradjoet Sendja, serta film Kalau Kau Indonesia, Tepuk Dada! (2012) dan Rectoverso: Cinta yang Tak Terucap (2013).

Dalam audiensi tersebut, Keana Film memaparkan sejumlah program yang disiapkan, seperti Monolog Melati Pertiwi, Kongres Perempuan di Yogyakarta, dan festival CULTURA di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Festival tersebut diarahkan untuk mendorong pertukaran budaya anak sekaligus memberdayakan pelaku UMKM lokal.

Rencana lainnya adalah mengembangkan IP Laksamana Malahayati dari seni pertunjukan ke medium komik dan film panjang. Pengembangan tersebut dibuka untuk kemungkinan kolaborasi dengan mitra internasional.

Irene mengatakan, pengembangan subsektor kreatif membutuhkan titik temu antara karya, ekosistem, dan model bisnis. Dengan demikian, kegiatan kreatif tidak berhenti pada produksi karya, tetapi dapat berkembang menjadi industri yang berkelanjutan.

«“Kita perlu mencari titik temu yang memungkinkan ekosistem kreatif tumbuh secara efisien dan berkelanjutan. Bukan hanya membangun potensi yang sudah tercipta, tetapi juga memastikan model bisnis kreatif bisa berjalan,” ujar Irene.»

Menurut dia, penguatan ekosistem tersebut juga penting untuk memberikan kepastian bagi investor yang hendak masuk ke subsektor seni pertunjukan dan film.

Irene menambahkan, seni pertunjukan dan film memiliki keterkaitan yang kuat. Panggung pertunjukan dapat menjadi ruang lahirnya IP, pengembangan talenta, sekaligus pintu masuk menuju medium kreatif lainnya.

«“Seni pertunjukan dan film sebenarnya berada dalam satu ekosistem yang saling menguatkan. Subsektor seni pertunjukan bukan hanya ruang ekspresi budaya, tetapi juga dapat menjadi sumber penciptaan IP, pengembangan talenta, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi para pejuang ekraf,” katanya.»

Ia berharap karya-karya seni pertunjukan tidak berhenti sebagai tontonan, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk kreatif dengan model bisnis yang berkelanjutan dan memiliki peluang untuk diadaptasi ke medium lain, termasuk film.

Bioskop Rakyat

Pembahasan juga mencakup pengembangan infrastruktur kreatif melalui program Indiskop Bioskop Rakyat. Program tersebut diarahkan untuk mempertemukan film, seni pertunjukan, kebudayaan, dan edukasi dalam satu ekosistem.

Irene menilai efisiensi dan pemanfaatan teknologi menjadi kunci agar model bioskop rakyat dapat diterapkan di lebih banyak daerah. Sistem digital, misalnya, dapat dimanfaatkan untuk distribusi, penjualan tiket, hingga pengelolaan jaringan bioskop.

Dengan pengelolaan yang lebih terpusat dan biaya operasional yang efisien, ekosistem perfilman diharapkan semakin kompetitif sekaligus mampu menjangkau masyarakat di berbagai daerah.

Sementara itu, Direktur Utama Keana Film, Marcella Zalianty, mengatakan rumah produksi yang dipimpinnya berfokus pada dua spektrum ekonomi kreatif, yakni seni pertunjukan dan film.

Menurut Marcella, regenerasi menjadi salah satu hal penting dalam menjaga keberlanjutan industri kreatif. Pendidikan dan pelatihan diperlukan agar muncul talenta baru yang mampu melanjutkan sekaligus mengembangkan karya kreatif Indonesia.

Marcella juga melihat peluang besar dalam pengembangan IP lokal menjadi karya yang dapat diterima pasar internasional.

Ia mencontohkan pengalaman Keana Film mengadaptasi karya sastra Rectoverso karya Dewi Lestari menjadi film omnibus. Pengalaman tersebut menjadi salah satu inspirasi untuk mengembangkan konsep omnibus di panggung yang mengangkat kisah pahlawan dari berbagai latar perjuangan dan lintas waktu.

«“Dengan demikian, Keana Film bisa menjadikan suatu IP lokal go global karena konten yang universal dan pantas membawa identitas Indonesia mendunia,” tutur Marcella yang juga Ketua Umum Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI 56).»

Dalam pertemuan tersebut, Irene Umar didampingi Direktur Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Dadam Mahdar. Dari Keana Film hadir Strategic Partner Fary Farghob, Partnership Aszka Arief, dan Sekretariat Widya.(***)

Redaksi

Berita Terkait

Rano Karno Dorong Jakarta-Seoul Perkuat Kolaborasi Budaya hingga Perfilman
Suyudi Ario Seto Menuju Kursi Kapolri, DPR Setujui Pengganti Listyo Sigit
Surat Santri untuk Presiden: Menyuarakan Gagasan dari Pesantren untuk Indonesia
FKI dan LINKN Dorong Sinergi Media Kawal Kasus Negara
FKI Dukung Persiapan Harlah Ke-5 AsMEN
Kemenekraf Dorong Kolaborasi Lintas Pihak agar Ide Kreatif Tak Sekadar Konsep
Kemenag Pastikan Nikah di KUA Tanpa Biaya, di Luar KUA Ada Ketentuan Tarif
Kemenhaj Perkuat Pengawasan Haji dan Umrah Lewat Hotline “Bongkar Mafia”
Berita ini 2 kali dibaca

Tinggalkan Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar akan tayang setelah disetujui oleh admin.