Siberrayapos | JAKARTA BARAT – Pagi bagi Anwar Sidiq Mubarok bukan sekadar tentang memulai hari. Di kawasan kuliner Pejagalan, Kelurahan Pekojan, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, aktivitasnya menjajakan bubur ayam Tasik menjadi bagian dari perjalanan panjang mencari penghidupan.
Anwar mulai mengenal dunia jualan bubur ayam ketika usianya masih 20-an tahun. Saat itu, ia ikut membantu berjualan bersama saudaranya. Dari pengalaman tersebut, Anwar perlahan mengenal bagaimana melayani pembeli, mempertahankan rasa, hingga memahami bahwa usaha kecil membutuhkan ketekunan dan kesabaran.
Pengalaman itu kemudian menjadi bekal ketika Anwar memutuskan untuk mencoba berdagang sendiri. Sejak 2016, ia mulai merintis usaha bubur ayam Tasik secara mandiri di kawasan Pejagalan.
Bukan perkara mudah mempertahankan usaha kuliner selama bertahun-tahun. Namun, Anwar memilih tetap bertahan dengan menu sederhana yang menjadi ciri khasnya, yakni bubur ayam Tasik yang disajikan tanpa kuah.
Kesederhanaan tersebut justru menjadi daya tarik tersendiri. Sebelum disantap, bubur biasanya diaduk terlebih dahulu hingga seluruh bahan tercampur rata. Sensasi rasa itulah yang kemudian membuat pelanggan memiliki pengalaman tersendiri ketika menikmati bubur ayam Tasik Mang Anwar.
Soal harga, Anwar juga berusaha menjaga agar buburnya tetap dapat dijangkau berbagai kalangan. Satu porsi bubur Tasik ditawarkan mulai Rp10.000 hingga Rp15.000.
Bagi Anwar, mempertahankan usaha bukan hanya soal berapa banyak porsi yang terjual setiap hari. Ada kepuasan ketika pelanggan datang kembali dan menikmati makanan yang ia siapkan dengan penuh ketekunan.
Salah satu pelanggan, Pak Paris, mengaku cocok dengan rasa bubur Tasik buatan Anwar. Menurutnya, cita rasa bubur tersebut pas di lidah dan harganya juga bersahabat.
“Pas di lidah, harganya terjangkau. Apalagi sebelum dimakan buburnya kita aduk sampai rata, rasanya mantap,” ujar Pak Paris.
Perjalanan Anwar dari sekadar ikut membantu saudara hingga berani membuka usaha sendiri menjadi gambaran bahwa usaha kecil kerap dibangun dari proses yang sederhana. Berbekal pengalaman, keberanian dan ketekunan, ia terus menjaga bubur Tasik racikannya agar tetap hadir di tengah aktivitas warga Pejagalan.
Di balik seporsi bubur yang terlihat sederhana, tersimpan cerita tentang seseorang yang memilih terus bekerja, mempertahankan usaha, dan menjaga cita rasa yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya sejak 2016.(yd)
Redaksi










