SERANG, SIBER RAYA POS — Memasuki bulan Rabiul Awal atau bulan Maulid, suasana magis sekaligus sakral tampak menyelimuti Kampung Sibopong, Desa Citaman, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Serang, Banten. Ribuan bilah senjata tradisional tumpah ruah demi mengikuti prosesi tahunan Jamasan Golok Ciomas, sebuah ritual pencucian pusaka warisan leluhur yang terus dijaga turun-temurun.
Tak hanya sekadar merawat benda tajam agar bebas dari karat, ritual yang digelar setiap 12 Rabiul Awal ini menjadi magnet besar bagi para pemilik pusaka, pelestari budaya, hingga ajang silaturahmi akbar masyarakat Banten.
Mandi Kembang Hingga Sentuhan Godam Keramat “Si Denok”
Pusaka-pusaka yang datang bukan sembarang senjata. Ribuan golok yang dibawa ke Kampung Sibopong merupakan karya dari para empu setempat, salah satunya Suna selaku keturunan langsung dari Ki Cengkir—tokoh pendiri sekaligus leluhur pencipta senjata legendaris Golok Ciomas.
Sebelum dibersihkan, ribuan golok tersebut wajib didata sesuai identitas para pemiliknya. Prosesi pembersihan fisik dilakukan menggunakan air khusus yang diracik dengan kembang tujuh rupa dan jeruk nipis.
Usai dicuci bersih, ritual dilanjutkan dengan tahap pemulasan yang menjadi inti dari tradisi ini. Bilah-bilah golok tersebut dioleskan atau disentuhkan secara perlahan ke sebuah palu atau godam keramat yang dinamakan Godam Si Denok, dipimpin langsung oleh keturunan sesepuh pande golok Ciomas.
”Jamasan ini merupakan momentum silaturahmi bagi pemilik dan juga golok asli Ciomas yang ditempa di tempat ini. Jamasan juga menjadi salah satu upaya masyarakat Sibopong dalam menjaga tradisi dan warisan budaya leluhur,” ujar Suna.
Simbol Perjuangan dan Pembersihan Jiwa
Bagi masyarakat Ciomas, golok bukan sekadar perkakas atau senjata tradisional, melainkan lambang identitas, sejarah, serta simbol perjuangan heroik rakyat Banten saat mengusir penjajah di masa lampau.
Oleh karena itu, filosofi di balik Jamasan Golok Ciomas jauh melampaui perawatan fisik logam semata. Proses mencuci bilah golok dimaknai sebagai simbol penyucian diri dan jiwa manusia, serta pengingat untuk senantiasa menjaga hubungan baik antarsesama manusia maupun dengan Sang Pencipta.
Tradisi sakral ini juga berfungsi ganda sebagai ruang edukasi bagi generasi muda agar pengetahuan merawat pusaka dan nilai historis Golok Ciomas tidak luntur ditelan zaman modern.
Pemkab Dorong Monumen Ikonik Golok Ciomas
Melihat potensi budaya yang luar biasa ini, pemerintah setempat berkomitmen penuh mengawal kelestariannya. Camat Ciomas, Ugun Gurmilang, menyatakan pihaknya siap mendukung penuh agar warisan luhur ini tetap lestari dan mendunia.
Bahkan, pihak kecamatan kini tengah mendorong Pemerintah Provinsi Banten untuk membangun monumen atau gapura khusus Golok Ciomas. Harapannya, monumen tersebut bisa menjadi ikon baru Kecamatan Ciomas sekaligus daya tarik wisata budaya yang memikat pelancong luar daerah.
Dari bilah-bilah pusaka yang berkilau usai dijamas, tersimpan pesan kuat bahwa warisan leluhur tidak cukup hanya disimpan dalam sarungnya, melainkan harus terus dirawat, dihormati, dan diwariskan kepada generasi masa depan.
Ferra










