Siber Raya Pos:

 

Saat Sihir Piano Matt Maltese Larutkan Ribuan Penonton LaLaLa Fest dalam Nyanyian

Minggu, 23 Agustus 2026 - 13:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Siberrayapos | Jakarta — Ada cara sederhana untuk membuat ribuan orang berhenti sejenak dari hiruk-pikuk festival. Matt Maltese menemukannya lewat piano.

Pada malam pertama LaLaLa Festival 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Sabtu (22/8), penyanyi dan penulis lagu asal Inggris itu tampil di LaLaStage dengan format yang nyaris tanpa basa-basi. Kemeja denim, sebuah piano, permainan bass, dan suara Maltese menjadi modal utama.

Tak ada produksi panggung yang berlebihan. Tak banyak ornamen yang mengalihkan perhatian. Namun, justru dari kesederhanaan itu, Maltese menciptakan suasana yang terasa dekat.

LaLaStage yang besar perlahan seperti mengecil. Penonton memenuhi area panggung, sementara perhatian mereka tertuju pada setiap nada yang keluar dari piano dan setiap bait yang dinyanyikan Maltese.

Ketika As the World Caves In dimainkan, batas antara penampil dan penonton seakan menghilang. Ribuan suara ikut menyanyikan lagu tersebut. Maltese seperti tidak sedang tampil sendirian; penonton mengambil bagian penting dalam pertunjukan.

Momen itu berlanjut melalui Intolewd dan Krystal. Respons penonton tetap hangat. Sejumlah bagian lagu dinyanyikan bersama, membuat pertunjukan terasa seperti pertemuan antara musisi dan para pendengarnya yang sudah lama mengenal karya-karyanya.

Namun, energi panggung kemudian berubah saat Maltese membawakan Curl Up & Die. Suasana yang semula riuh menjadi lebih tenang. Permainan piano mengambil ruang lebih besar, membawa penonton masuk ke sisi pertunjukan yang lebih emosional.

Tanpa perlu mengumbar kemegahan produksi, Maltese justru berhasil membuat ribuan orang fokus pada hal paling mendasar dalam sebuah pertunjukan musik: lagu.

Ia kemudian memilih Everyone Adores You (At Least I Do) sebagai penutup. Lagu itu menjadi salam perpisahan yang hangat sebelum Maltese meninggalkan panggung.

Penampilan tersebut menjadi salah satu pengingat bahwa festival musik bukan semata soal panggung besar, tata cahaya spektakuler, atau produksi yang serba megah. Kadang, sebuah piano dan suara yang jujur sudah cukup untuk membuat kerumunan besar terasa begitu dekat.

Redaksi.

Berita Terkait

Blok M Menuju Model TOD Jakarta, Ruang Publik Diperluas Lima Kali Lipat
Tawur Agung Manca Wali Krama Ditutup, Menpar Dorong Pariwisata Berbasis Budaya dan Kelestarian Alam
BKPSDM Kota Serang Bungkam soal Pemanggilan Kadinkes Ahmad Hasanuddin ke Polda Banten
Program Sekolah Lansia Citra Sundari Cilegon, Ridwan: Sehat, Aktif, Mandiri, dan Bahagia
Sat Samapta Polres Cilegon Gelar Simulasi Penanganan Aksi Huru Hara di Pt Pln Persero ULTG Gitet
Walikota Cilegon Robinsar Buka Acara Sosialisasi dan Serah Terima Sarana Pengumpulan Sampah Hulu ISWMP
R. Nuzulima Ilmiaty Ismail (Kasubdit bidang sanitasi) : Kota Cilegon Terima Bantuan Sarana Pengangkutan untuk Wujudkan Lingkungan Bersih
Langkah Nyata Menuju Indonesia Bersih: Plt. Kepala Balai BPBPK Banten Luciana Angelin Narua Serahkan Sarana Pengumpulan Sampah ISWMP ke Pemkot Cilegon
Berita ini 5 kali dibaca

Tinggalkan Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar akan tayang setelah disetujui oleh admin.