Siber Raya Pos:

 

Pesan Menag Saat Maulid Nabi: Akhlak adalah Kunci Peradaban Besar

Selasa, 25 Agustus 2026 - 20:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Siberrayapos | Jakarta — Peradaban tidak semata dibangun oleh gedung-gedung tinggi, kecanggihan teknologi, atau pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan. Ada fondasi yang jauh lebih mendasar: akhlak. Tanpa akhlak, kemajuan bisa kehilangan arah. Sebaliknya, ketika akhlak tegak, ilmu menjadi cahaya, kekuasaan menjadi amanah, dan kasih sayang menemukan tempatnya dalam kehidupan bersama.

Pesan itulah yang disampaikan Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah/2026 Masehi. Menurut dia, perjalanan dakwah Rasulullah SAW sejak awal telah menunjukkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari pembentukan manusia.

“Beliau memulai dakwahnya dengan membangun akhlak manusia. Sebab, akhlak adalah fondasi dari setiap peradaban. Ketika akhlak tegak, keadilan akan tumbuh. Ilmu pengetahuan akan membawa manfaat, kekuasaan akan dijalankan dengan amanah, dan kasih sayang akan menjadi perekat kehidupan bermasyarakat,” ujar Nasaruddin di Jakarta, Senin (24/8/2026).

Bagi Menag, transformasi yang dibawa Rasulullah SAW bukan sekadar perubahan dalam kehidupan keagamaan. Lebih dari itu, ia merupakan sebuah lompatan peradaban yang mengubah cara manusia memandang dirinya, sesamanya, dan kehidupan.

Transformasi tersebut berakar pada nilai tauhid, pengembangan ilmu pengetahuan, penegakan keadilan, penguatan kasih sayang, serta penghormatan terhadap martabat manusia. Nilai-nilai itulah yang kemudian menjadikan ajaran Islam tidak berhenti sebagai ruang spiritual personal, melainkan hadir sebagai kekuatan sosial yang membentuk peradaban.

Menag mengingatkan sabda Rasulullah SAW, “Innamā bu’itstu li utammima makārimal akhlāq”—sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.

Sabda itu, menurut Nasaruddin, menjadi pintu untuk memahami mengapa perubahan yang dibawa Nabi Muhammad SAW mampu menembus batas zaman. Rasulullah membangun manusia terlebih dahulu, menanamkan kesadaran tentang kemuliaan, keadilan, dan kasih sayang, sebelum peradaban tumbuh dalam bentuknya yang lebih luas.

Dari Jahiliah Menuju Cahaya Peradaban

Empat belas abad silam, dunia berada dalam situasi yang oleh sejarah dikenal sebagai zaman jahiliah. Nilai-nilai kemanusiaan mengalami kemerosotan. Yang kuat menindas yang lemah, sementara kelompok-kelompok rentan, termasuk perempuan, kehilangan martabat dan ruang untuk menentukan kehidupannya.

Di tengah keadaan itulah Rasulullah SAW hadir membawa perubahan. Perlahan, tetapi mendasar. Bukan hanya dengan kata-kata, melainkan dengan keteladanan akhlak.

Kini, manusia hidup dalam zaman yang sangat berbeda. Ilmu pengetahuan berkembang dengan kecepatan yang nyaris tanpa batas. Teknologi memperpendek jarak, membuka cakrawala baru, dan mengubah hampir seluruh cara manusia menjalani hidup.

Namun, kemajuan itu, menurut Menag, tetap harus dirawat oleh nilai-nilai kemanusiaan. Sebab, kemajuan tanpa kebijaksanaan dapat kehilangan maknanya.

“Di baliknya terdapat perjuangan yang begitu agung dari seorang Rasul pilihan Allah SWT, yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Dialah Baginda Nabi Muhammad SAW, yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk membebaskan manusia dari belenggu kejahilan,” tutur Nasaruddin.

Momentum Maulid Nabi, karena itu, bukan sekadar perayaan untuk mengenang kelahiran seorang tokoh besar dalam sejarah. Ia dapat menjadi ruang perenungan: sejauh mana umat hari ini telah menghadirkan akhlak Rasulullah dalam kehidupan yang semakin kompleks.

Di tengah dunia yang kerap gaduh oleh pertentangan, keteladanan Nabi tentang kasih sayang, keadilan, kejujuran, dan penghormatan terhadap martabat manusia menemukan kembali relevansinya.

Cinta yang Melampaui Ruang dan Waktu

Nasaruddin juga mengajak umat Islam untuk terus memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW. Cinta itu, katanya, tidak dibatasi oleh jarak sejarah maupun ruang kehidupan.

“Keterpisahan oleh ruang dan waktu tidak pernah mengurangi cinta kita kepada Rasulullah SAW. Rasa cinta itu akan senantiasa bersemi untuk manusia yang senantiasa memikirkan, mendoakan dan memohonkan ampun bagi umatnya,” ujarnya.

Cinta kepada Rasulullah, tentu, menemukan maknanya bukan hanya dalam ungkapan, melainkan dalam upaya meneladani jejak hidupnya. Dalam kejujuran ketika menjalankan amanah. Dalam keadilan saat memegang kekuasaan. Dalam kasih sayang ketika berhadapan dengan sesama.

Menag mengucapkan selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H kepada seluruh umat Islam. Ia berharap peringatan tersebut menjadi energi untuk menghidupkan kembali ajaran dan akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.

“Semoga Allah SWT memberikan kita kekuatan untuk senantiasa meneladani akhlaknya, dan menghidupkan ajarannya. Dan semoga kita semua menjadi bagian dari umat yang kelak memperoleh syafaat beliau di hari kemudian,” pungkasnya.

Pada akhirnya, Maulid Nabi mengingatkan bahwa peradaban yang agung selalu bermula dari manusia yang memuliakan manusia. Dan dalam jejak Rasulullah SAW, umat menemukan pelajaran bahwa akhlak bukan sekadar pelengkap kehidupan, melainkan fondasi utama bagi masa depan yang lebih adil, berilmu, dan penuh kasih.(Dbyd)

Redaksi

Berita Terkait

Rano Karno Dorong Jakarta-Seoul Perkuat Kolaborasi Budaya hingga Perfilman
Suyudi Ario Seto Menuju Kursi Kapolri, DPR Setujui Pengganti Listyo Sigit
Surat Santri untuk Presiden: Menyuarakan Gagasan dari Pesantren untuk Indonesia
FKI dan LINKN Dorong Sinergi Media Kawal Kasus Negara
FKI Dukung Persiapan Harlah Ke-5 AsMEN
Kemenekraf Dorong Kolaborasi Lintas Pihak agar Ide Kreatif Tak Sekadar Konsep
Kemenag Pastikan Nikah di KUA Tanpa Biaya, di Luar KUA Ada Ketentuan Tarif
Kemenhaj Perkuat Pengawasan Haji dan Umrah Lewat Hotline “Bongkar Mafia”
Berita ini 3 kali dibaca

Tinggalkan Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar akan tayang setelah disetujui oleh admin.