CILEGON, Siber Rays Pos – Warga Lingkungan Gunung Batur II, Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon, harus bertaruh tenaga berjalan hingga dua kilometer menuju dasar lembah demi mendapatkan air bersih.
Kemarau panjang yang telah melanda selama empat bulan terakhir membuat sumur-sumur milik warga mengering total.
Setiap hari, warga menyusuri jalan setapak yang terjal sambil membawa jeriken dan galon kosong menuju Sumur Bendung. Tempat ini merupakan sumber mata air alami yang berada di dasar lembah. Meski aliran sungai di sekitarnya sudah lama mengering, titik ini menjadi satu-satunya tumpuan harapan masyarakat untuk menyambung hidup.
Air yang didapatkan dengan susah payah ini digunakan untuk seluruh kebutuhan domestik, mulai dari minum, memasak, mandi, hingga mencuci pakaian.
Namun, perjalanan menuju lokasi bukanlah perkara mudah. Setibanya di area lembah, warga masih harus menuruni tebing curam untuk bisa menjangkau titik keluarnya air. Dari belasan mata air yang biasanya memancar di kawasan tersebut, kini hanya tersisa beberapa titik saja yang masih mengalir akibat kemarau.
Ujian sesungguhnya baru dimulai setelah galon-galon tersebut terisi penuh. Warga harus mengerahkan tenaga ekstra untuk mengangkut galon-galon berat itu menaiki tebing terjal menuju jalan utama.
Setelah berhasil naik, galon-galon tersebut dikumpulkan terlebih dahulu di pinggir jalan sebelum diangkut kembali menuju rumah masing-masing yang berjarak sekitar dua kilometer.
Di sekitar sumber mata air, pemandangan ratusan galon yang berjejer rapi mengantre giliran pengisian sudah menjadi pemandangan sehari-hari selama musim kemarau.
Salah seorang warga setempat, Sarah, menuturkan bahwa krisis air ini sudah berlangsung sekitar empat bulan. Ia mengeluhkan bantuan air bersih dari pemerintah yang datang sangat terbatas dan tidak mencukupi kebutuhan harian.
”Kekeringan sudah berjalan empat bulan. Kami terpaksa mengambil air ke Sumur Bendung karena hanya di sini yang airnya masih keluar, walaupun sedikit. Memang ada bantuan dari pemerintah, tapi hanya seminggu sekali dan setiap warga cuma kebagian dua galon,” ungkap Sarah.
Keluhan serupa diutarakan oleh Maiyah. Ia harus rela berjalan bolak-balik sejauh dua kilometer demi memasok air bersih ke rumahnya.
Setelah berhasil membawa satu galon dari dasar lembah, Maiyah menggendongnya menyusuri jalanan kampung. Tak lama berselang, ia harus kembali lagi ke lokasi untuk mengambil sisa galon lain yang sudah diantrekan.
Bagi Maiyah, lelah yang ia rasakan tidak sebanding dengan risiko membiarkan keluarganya kehabisan air bersih.
”Mau bagaimana lagi, sumur di rumah sudah kering total. Terpaksa harus ambil dari sini. Tidak apa-apa harus bolak-balik, yang penting di rumah ada air untuk keluarga,” ucap Maiyah pasrah.
Krisis air bersih yang melanda dua lingkungan di Kelurahan Mekarsari ini seolah menjadi agenda tahunan setiap kali musim kemarau tiba. Kondisi geografis wilayah yang didominasi oleh batuan cadas juga menjadi kendala utama sulitnya pembuatan sumur bor sebagai solusi alternatif.
Praktis, selama kemarau panjang meranggas, mata air di dasar lembah tersebut menjadi satu-satunya napas kehidupan bagi masyarakat setempat.
Hingga saat ini, baik Pemerintah Kota Cilegon maupun Pemerintah Provinsi Banten dinilai belum memberikan solusi yang konkret dan permanen untuk menyudahi penderitaan warga Gunung Batur.
Respons pemerintah sejauh ini masih bersifat sementara, yakni hanya sebatas menyalurkan bantuan air bersih lewat truk tangki dengan volume yang jauh dari kata cukup.
Warga sangat berharap pemerintah segera mengambil langkah jangka panjang, seperti membangun jaringan pipa air bersih atau infrastruktur penyediaan air yang memadai. Dengan begitu, mereka tidak perlu lagi bertaruh keselamatan menuruni tebing curam hanya demi setetes air bersih.
Fera | Cilegon, Banten








