Link Konsultasi : https://forms.gle/9TMfXJXQZiY1U2mx8
Hallo Dr Lukman. Saya ingin berkonsultasi mengenai persoalan rumah tangga, khususnya tentang bagaimana masalah ekonomi dapat mempengaruhi kondisi psikologis seseorang dan hubungan dalam pernikahan.
Saya sering melihat bahwa persoalan keuangan bukan hanya tentang kurangnya penghasilan atau banyaknya kebutuhan, tetapi juga dapat menimbulkan tekanan yang jauh lebih besar. Ketika kebutuhan keluarga tidak terpenuhi, muncul rasa khawatir, malu, kecewa, saling menyalahkan, bahkan hilangnya kepercayaan antara suami dan istri. Dalam kondisi seperti itu, komunikasi yang awalnya sederhana bisa berubah menjadi pertengkaran, dan masalah ekonomi perlahan berkembang menjadi masalah emosional.
Saya tertarik untuk memahami lebih dalam bagaimana tekanan ekonomi dapat mengubah cara seseorang berpikir, bersikap, dan memperlakukan pasangannya. Saya juga ingin mengetahui mengapa sebagian pasangan mampu melewati masa sulit bersama, sementara pasangan lainnya justru semakin menjauh hingga akhirnya memilih perceraian.
Yang ingin saya pahami juga adalah, apakah perceraian yang dipicu masalah ekonomi sebenarnya hanya disebabkan oleh kondisi finansial, atau ada persoalan psikologis lain yang ikut memperkuatnya, seperti stres berkepanjangan, rasa tidak dihargai, ketakutan terhadap masa depan, ego, komunikasi yang buruk, atau ketidakmampuan mengelola emosi. Demikian pak Doctor, mohon pencerahannya ! Salam Ocha Cilegon.
Jawaban Dr. Lukman :
Halo Ocha, terima kasih sudah berbagi cerita ini.
Setiap orang memiliki peredam alami dalam dirinya, semacam bantalan yang meredam benturan sebelum berubah menjadi luka. Benturan itu bisa berupa masalah kesehatan, kelelahan setelah seharian bekerja, atau tekanan ekonomi. Namun setiap orang punya ambang batas peredam yang berbeda, dan berbagai tekanan ini jarang berdiri sendiri, ia bekerja seperti amplifier yang memperbesar apa yang sudah ada dalam hubungan.
Stres finansial berkepanjangan perlahan mengikis peredam tersebut. Energi mental yang seharusnya untuk berpikir jernih dan berempati justru terkuras untuk sekadar bertahan hidup. Komunikasi pun menjadi reaktif, mudah tersinggung, dan saling menyalahkan menjadi pelampiasan rasa tidak berdaya.
Menariknya, yang menentukan arah hubungan bukan besar-kecilnya masalah ekonomi, melainkan cara pasangan memaknainya bersama. Pasangan yang bertahan biasanya tetap merasa satu tim, terbuka soal kekhawatiran, tidak memendam kekecewaan sendirian, dan saling menghargai meski situasi sulit.
Karena itu, komunikasikan yang terpendam dengan tenang. Hadapi masalah sebagai tim, bukan saling menuding. Susun langkah nyata mengurangi tekanan finansial, kurangi pengeluaran yang tidak perlu, cari peluang penghasilan tambahan. Masa sulit itu sementara, tapi cara kita memperlakukan pasangan selama masa itu sering meninggalkan bekas paling lama.










