Siber Raya Pos:

 

Karina Icha, Ketika Panggung Kecantikan Bertemu Sinema Horor

Jumat, 14 Agustus 2026 - 19:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Siberrayapos | Jakarta — Dunia hiburan punya banyak pintu. Ada yang membukanya lewat layar lebar, ada pula yang menemukannya di panggung peragaan, dunia modeling, hingga forum-forum kebudayaan. Karina Icha menjalani hampir semuanya.

Perempuan kelahiran Enrekang, Sulawesi Selatan, 15 Mei 1994, itu mengawali langkahnya sebagai pemain film. Perjalanan kemudian membawanya mengikuti ajang kecantikan, hingga pada 28 September 2025 dinobatkan sebagai Miss Celebrity Indonesia. Gelar tersebut sekaligus mengantarkannya menyandang predikat Miss Celebrity International Ambassador 2025.

“Awalnya saya pemain film. Kemudian teman-teman menyarankan ikut ajang kecantikan. Saya mengikuti audisi sebagai perwakilan Sulawesi Selatan, menjalani karantina di Jakarta, sampai akhirnya mengikuti final,” ujar Karina,Sabtu(13/8)

Perjalanan tersebut seolah mempertemukannya kembali dengan dunia film dalam bentuk yang berbeda. Pada Festival Film Horor (FFH) episode ke-8 di PFN Heritage, Jakarta, Sabtu, 13 Agustus 2026, Karina dipercaya menjadi presenter sekaligus moderator diskusi yang mempertemukan penulis, pengamat, dan sutradara film horor Indonesia.

Bagi Karina, pengalaman itu bukan sekadar menjalankan tugas di atas panggung. Ia melihat festival film sebagai ruang untuk membaca kembali perjalanan sinema Indonesia, termasuk genre horor yang selama ini memiliki tempat istimewa di hati penonton.

Menurutnya, film horor Indonesia memiliki potensi besar. Tingginya minat masyarakat menjadi salah satu tanda bahwa genre tersebut masih memiliki daya hidup. Namun, perkembangan zaman menuntut para sineas untuk terus bergerak, mencari gagasan baru, dan tidak berhenti pada formula yang sudah dikenal.

Karina memandang kehadiran festival film horor sebagai sesuatu yang penting. Festival, baginya, dapat menjadi ruang bertemunya gagasan sekaligus membuka kemungkinan bagi sinema horor Indonesia untuk berkembang lebih jauh.

“Dengan adanya festival horor Indonesia, mudah-mudahan bisa memberi solusi agar film kita semakin maju dan melahirkan inovasi yang lebih baik,” katanya.

Menjadi moderator diskusi FFH juga meninggalkan kesan tersendiri. Karina mengaku senang sekaligus bangga mendapat kepercayaan untuk memandu perbincangan mengenai film horor bersama para pelaku dan pemerhatinya.

Ada satu hal yang membuat pengalaman tersebut terasa lebih istimewa: kehadiran generasi muda, termasuk pelajar SMA yang kelak mungkin menjadi bagian dari perjalanan perfilman Indonesia.

Di situlah festival film menemukan makna lain. Ia bukan hanya tempat mempertontonkan karya, melainkan juga ruang untuk menanamkan keberanian bermimpi kepada generasi yang sedang mencari jalannya.

Di luar panggung FFH, Karina kini menjalani sejumlah aktivitas. Gelar Miss Celebrity International Ambassador tetap menjadi bagian dari tanggung jawabnya. Ia juga masih bergiat di dunia film, iklan dan modeling, sembari aktif dalam organisasi.

Salah satunya adalah kiprahnya sebagai Ketua Srikandi Laskar Merah Putih Indonesia.

Karina tampaknya sedang menikmati fase ketika satu pintu tidak harus menutup pintu lainnya. Dunia film, kecantikan, modeling, organisasi, dan panggung diskusi justru saling berkelindan menjadi perjalanan baru.

Dari pemain film menjadi pemegang gelar kecantikan, lalu berdiri di depan forum yang membicarakan masa depan film horor Indonesia—Karina Icha sedang memperlihatkan bahwa perjalanan di dunia hiburan tidak selalu bergerak lurus.

Kadang, justru dari persimpangan itulah seseorang menemukan panggung terbaiknya.

(Dbyd)

Berita Terkait

Dari Luka Menuju Kekuatan, Beautiful Pain Ungkap Final Poster Terbaru
Rano Karno Belajar dari Busan, Dorong Jakarta Jadi Kota Film
Empat Aktor Hadapi Teror Paranoia di Film Hasut, Misteri Mengintai di Tengah Hutan
Lindee Cremona Raih Indomusik Awards 2026, Kisah Kucing Terlantar Curi Perhatian
Desember Jani Wakili Indonesia di Asian Future Tokyo International Film Festival 2026
Setelah 20 Tahun Dipenjara, Pertiwi Kembali dengan Luka dan Misteri Bromo
Poster Sempat Bikin Drama, GJLS: Berapi-Api Malah Bikin Damkar Turun Tangan
Musik Diputar, Hak Pencipta Jangan Diabaikan: DJKI Dorong Pelaku Usaha Taat Royalti
Berita ini 10 kali dibaca

Tinggalkan Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar akan tayang setelah disetujui oleh admin.