Serang, Siber Raya Pos — Pemandangan miris sekaligus memprihatinkan terlihat di SD Negeri (SDN) Kramat, Desa Parigi, Kecamatan Cikande, Kabupaten Serang, Banten. Betapa tidak, pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2026 ini, sekolah tersebut hanya mendapatkan 7 orang murid baru untuk duduk di kelas I!
Kondisi sepi bak kuburan langsung menyambut siapapun yang melangkahkan kaki ke area sekolah tersebut. Tak cuma di halaman, suasana ‘adem ayem’ tanpa keriuhan anak-anak juga menyelimuti tiap sudut ruang kelas. Fenomena miris ini rupanya bukan cerita baru, melainkan borok lama yang sudah menggerogoti sekolah selama 5 tahun belakangan.
Kepala SDN Kramat, Aan Hernawati, tak menampik realita pahit yang melanda sekolahnya. Ia cuma bisa mengelus dada melihat tren penurunan jumlah murid yang kian mengkhawatirkan.
”Ya, mau bagaimana lagi. Sudah lima tahun jumlah siswa memang sedikit. Tahun lalu hanya empat siswa, sedangkan tahun ini ada sedikit peningkatan menjadi tujuh siswa,” ungkap Aan dengan nada pasrah.
Biang kerok sepinya peminat di sekolah ini ternyata dipicu oleh beberapa faktor krusial. Selain karena wilayah Desa Parigi yang tergolong sempit—hanya terdiri dari Kampung Kalong dan Kampung Kramat—faktor gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di kawasan industri Cikande jadi pukulan yang amat telak.
Banyaknya pabrik yang bertekuk lutut alias gulung tikar membuat para buruh yang tadinya mengontrak di sekitar lokasi memilih angkat kaki dan pulang kampung. Alhasil, anak-anak mereka yang tadinya menimba ilmu di SDN Kramat pun ikut bedol desa.
”Salah satu penyebab utamanya karena di sini hanya ada dua kampung, jadi jumlah anak usia sekolah memang sedikit. Selain itu, sudah empat tahun terakhir banyak pabrik tutup dan terjadi PHK. Banyak keluarga yang pindah ke daerah lain, sehingga berdampak pada jumlah siswa di sini,” beber Aan.
Demi menyiasati keterbatasan murid dan agar roda kegiatan belajar mengajar (KBM) tetap berputar, pihak sekolah terpaksa memutar otak. Sistem ‘kelas gabungan’ alias dikocok jadi satu pun diberlakukan. Murid kelas I digabung seruangan dengan kelas II, kelas III menempel dengan kelas IV, dan kelas V disatukan dengan kelas VI.
Catatan sekolah menunjukkan, total seluruh murid dari kelas I sampai kelas VI di SDN Kramat saat ini hanya menyisakan 72 anak saja!
Kini, pihak sekolah cuma bisa menggantungkan asa pada keajaiban di tengah tahun ajaran—berharap ada ‘angin segar’ berupa kedatangan murid-murid pindahan agar bangku-bangku kelas yang kosong kembali terisi.
(Fera / Serang – Banten)








